[FEATURE] Film Favorite Warga Korea Selatan

Interstellar dan Frozen adalah dua film Hollywood yang secara khusus diterima di Korea. Film pertama terkait pendidikan dengan konten ilmiah dan yang kedua sejalan dengan pemikiran penonton Korea karena mengangkat nilai keluarga mengenai dua kakak beradik yatim piatu. Nilai keluarga dan minat terhadap pendidikan sangat mempengaruhi pilihan film yang mereka tonton.
Di Korea, 10.275.484 orang menonton film Interstellar yang digarap oleh Christopher Nolan.. Jumlah ini adalah terbanyak ke-13. Di Amerika Serikat saja, film ini mendapatkan keuntungan dengan pendapatan sebesar 180 juta dollar, sedikit melampaui biaya produksi sebesar 160 juta dollar. Film ini tidak mendatangkan keuntungan di luar Amerika, kecuali di Korea. Contoh lain adalah film animasi Disney yang berjudul Frozen dengan 10.296.101 penonton, yang merupakan film animasi terbesar yang ditayangkan di Korea. Merchandise yang dijual yaitu baju, mainan dan lagu sound track aslinya terjual sangat laris. 


 Selera Penonton Film Korea
Film-film laris Hollywood sudah lama dikenal sebagai makanan cepat saji yang enak tapi tidak bergizi oleh para penontonnya. Kalau hamburger McDonald memang dibuat untuk memuaskan penikmat di seluruh dunia, sulit dijelaskan mengapa makanan ini secara khusus terkenal di Korea. Dulu, penonton Korea lebih memilih film dengan lokalitas kental terlepas dari kewarganegaraan mereka.
Misalnya, banyak film laris Korea berisi elemen yang sangat lokal dan tidak mudah dipahami di negara lain. Silmido dan Taegukgi: The Brotherhood of War adalah film laris pertama yang berhasil menarik lebih dari 10 juta penonton, dan ketika mereka mendirikan gedung bioskop pada tahun 2004, tagline yang dipakai adalah “Film laris ala Korea” terdengar sedikit berlebihan untuk film yang menelan anggaran sebesar 10 juta dolar Amerika. Film ini berhasil dan banyak penonton memberikan sambutan positif. Faktor kunci kesuksesan itu adalah karena warga Korea sangat mencintai negerinya. Latar melodrama Taegukgi di mana dua kakak beradik laki-laki saling menodongkan senjata dalam sebuah negara yang terbagi adalah manifestasi emosi warga Korea. Sama halnya, pasti sangat berat bagi penonton asing memahami mengapa agen rahasia dalam Silmido yang diabaikan oleh pemerintah menumpahkan emosi ketika kehilangan ibunya dengan mengabdi kepada negara. 
Sampai dengan paruh akhir tahun 2000, film-film Korea lebih populer di mata penonton Korea dibanding film-film Amerika.

Untuk beberapa lama, film laris Hollywood menghindari kompetisi langsung dengan film-film Korea selama musim liburan seperti libur musim panas dan hari Natal. Popularitas bintang-bintang film Korea Gelombang Korea (Hallyu) dengan cepat merambah ke Jepang dan China yang pada saat itu juga karena pesatnya pertumbuhan industri film Korea. Namun, karena konglomerat yang menciptakan oligo/monopoli dalam industri perfilman mengambil alih investasi, distribusi dan penayangan di gedung bioskop, film-film itu menjadi lebih terbatas sementara biaya produksi meningkat. Hanya sedikit film Korea yang tersisa, dan film-film Hollywood mendapatkan tempat lagi. Selama lima tahun terakhir, film Korea tidak mendapatkan kesempatan bersanding dengan film Hollywood dalam musim liburan. Oleh karena itu, sangat menarik melihat apa yang spesial dalam Interstellar dan Frozen yang membuatnya berhasil menarik lebih banyak penonton di Korea dibanding di negara-negara lain.
Film Hollywood yang Disukai oleh Penonton Korea
Sebagian orang berkelakar mengenai bagaimana Interstellar menjadi film laris di Korea karena hasrat mereka akan pendidikan. Latar film adalah tata surya yang terhubung dengan galaksi melalui lubang hitam (wormholes), dan hal ini sangat baru bagi penonton Korea yang tidaak memiliki pengetahuan ilmiah yang luas. Strategi pemasaran yang dilakukan distributor dan siaran pers mereka menciptakan demam terhadap konten ilmiah film ini. Orang tua yang tidak bisa menjawab pertanyaan anak-anak mereka yang bertubi-tubi memilih menonton bersama anak-anak mereka dan berbincang seperti ketika mereka di planetarium. Lubang hitam digambarkan dengan sangat menarik dalam film ini. Luar angkasa ditampilkan dengan sangat memukau diban-ding yang biasa kita lihat dalam film-film dokumenter. Ketika musik sedih yang mengalun sebagai latar belakang adegan itu berhenti tiba-tiba, kamera menangkap alam semesta dalam extremely long shot, dan ini adalah momen kemenangan bagi canggihnya teknologi film Hollywood.

Penonton Korea juga dekat dengan sentimentalisme film-film keluarga yang menjadi ruh film Interstellar. Seperti halnya Silmido dan Taegukgi, film megahit seperti Miracle in Cell No. 7, The Attorney, dan Ode to My Father juga mengangkat emosi yang sama. Warga Korea cepat bereaksi pada orang tua yang berkorban demi anak-anaknya dan khususnya isak tangis seorang ibu. Dalam Interstellar, Murphy (anak perempuan) yang duduk di sekolah dasar pada saat Cooper (ayah) meninggalkan bumi bertemu de-ngannya pada saat ia menjelang ajal dan terlihat jauh lebih tua dari ayahnya, dan adegan itu membuat penonton Korea menitikkan air mata. Ini adalah momen yang menyentuh hati bahwa teori relativitas bahwa waktu berjalan lebih lambat di tempat dengan gravitasi lebih kuat dan hal ini terlihat pada kematian manusia dan mengingatkan penonton akan cinta keluarga dan sedihnya kehilangan orang yang dicintai.
Respon fanatik terhadap Frozen dapat ditemukan dalam hal serupa. Film berubah kerangkanya dari putri-putrian menjadi klise dalam film animasi Disney. Awal film seperti dalam Sleeping Beauty, tapi tidak hanya mengenai putri dan pangeran melainkan tentang dua orang putri kakak beradik yang saling mempengaruhi satu sama lain, dan belajar menerima dan saling memahami. Gadis-gadis Korea yang duduk di sekolah dasar merasa seolah Elsa adalah adik mereka. Ia menciptakan istana es dan menikmati tinggal sendiri. Mula-mula ia takut kekuatannya membekukan sega-la sesuatu tapi akhirnya bisa menerima dengan catatan possitif dan hal ini menjadi mungkin bukan karena ciuman pangeran tapi karena kasih sayang adiknya Anna. Elsa dan Anna mendapatkan tumbuh setelah orangtua mereka meninggal. Mereka beruntung tak ada pangeran yang menyelamatkan mereka sehingga mereka  menjaddi pemilik kehidupannya sendiri.

Film ini mencerminkan keinginan perempuan Korea akan peran gender dalam masyarakat konservatif, kurang menekankan pada hubungan romantis antara laki-laki dan perempuan tapi lebih kepada kasih sayang antara dua kakak beradik, dan ini mengena di hati warga Korea karena mereka menyukai pendekatan emosi film yang didasarkan pada nilai keluarga. Orang tua pergi ke bioskop bergandengan tangan dengan anak-anak mereka, dan mereka sangat terhanyut dengan tema film yang berbeda fari cerita peri yang konvensional. Film ini dengan cara cerdas memuaskan fantasi orang tua mengenai bagaimana mereka menginginkan anak-anak perempuan mereka menjalani hidup.

So, Hallyuers…jadi tau kan kenapa tayangan Korea selalu menguras airmata?
Source:  Koreana Magazine


Komentar