Rabu, 03 Februari 2016

[FEATURE] Putri Duyung Hidup Di Pulau Jeju [Part 2 End]

Istilah Jam-Nyo atau Wanita penyelam sudah ada sejak abad ke-17. Adanya migrasi besar-besaran para perempuan ke pulau tersebut pada tahun 1887 dan Jepang pada tahun 1903 tercatat menjadikan produktivitas mereka naik dalam jumlah besar.
Pada abad ke-17 pekerjaan menangkap ikan dan menyelam berubah menjadi pekerjaan wanita. Bisa juga dikatakan bahwa perempuan lebih mudah beradaptasi dengan pekerjaan, menjadikan mereka lebih cocok untuk berenang daripada laki-laki, dengan karena lemak tubuh yang lebih banyak.
Mereka tidak hanya terampil dalam mengumpulkan makanan laut, tetapi juga memiliki minat yang besar dalam berbagai isu budaya dan sosial. Selama masa kolonial, mereka memimpin kampanye anti-Jepang dan koperasi juga didirikan untuk melestarikan sumber daya laut. Mereka juga bekerja untuk melestarikan budaya Haenyeo. Haenyeo diberikan medali untuk kontribusi mereka selama kampanye anti-Jepang, dan melihat penciptaan sebuah monumen dan taman peringatan untuk menghormati mereka, yang terletak di Hado-ri, Jeju-do.


Hanna Soejoethi
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar