Rabu, 26 Oktober 2016

[NEWS] Dengarkan Cahaya, Rabalah Bunyi, Lihatlah Aroma dalam Pameran "Dialogue with the Senses"

Setelah resmi dibuka pada jumat (21/10/2016), Pameran Seni Media Instalasi Korea-Indonesia dengan tema "Dialogue with the Senses" (Dialog dengan Pancaindera) ini menampilkan karya seni kontemporer terbaru dari sembilan seniman muda dan berbakat dari Korea dan Indonesia, pameran ini bertujuan mengeksplolasi 'pengalaman sensoris' dan signifikasi dalam hidup kita "tidak hanya melihat karya tetapi juga bisa merasakan lewat panca indera" papar Jeong Ok Jeon selaku Kurator pada pembukaan waktu lalu. 

Berayun diantara digital dan analog, pameran ini merangsang beragam pengalaman sensoris untuk mendorong pengunjung terlibat dalam karya seni di berbagai tataran. beberapa karya bersifat interaktif: memerlukan kontak fisik atau pengoperasian langsung oleh pengunjung. karya lain bersifat partisipatoris: mengundang pengunjung menjadi pelaku dalam karya yang dipamerkan. seluruh karya memancing reaksi emosi dan luapan psikologis melalui pengalaman rangsangan sensoris. Maka tubuh memainkan peran utama dalam memahami tiap karyanya. 

Seperti karya seni dari Fajar Abadi bertema "Rasarumah" (2016) yang tertarik untuk mengolah keterkaitan antara bau dan ingatan. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan membuat lilin aromaterapi dengan dua keharuman: sop ayam dan semur pasta fermentasi kedelai (Doenjang jjigae) yang umum disajikan dalam rumah tangga di dua budaya yang berbeda, memicu kerinduan akan keluarga dan ingatan atas kampung halaman. Keduannya disajikan secara berbeda, Doenjang jjigae dalam sebuah ddukbaegi (mangkuk tembikar) dan masakan Indonesia sop ayam dalam mangkuk ayam. Masakan tersebut, yang biasa disajikan di banyak rumah tangga, menandakan keintiman antara
anggota keluarga. Perbedaan dalam posisi duduk antara kebudayaan yang berbeda juga turut diilustrasikan pada penopang mangkuk-mangkuk tersebut.




Karya Kim Hyung Joong dengan tema "Jangdna" (2015) yang memiliki latar belakang pendidikan video dan filosofi ini menghasilkan karya dengan bayang visual dari suara manusia. Suara manusia menyusun dan mengurai citraan yang merupakan simbol kumpulan DNA manusia. “Alam adalah data, data adalah alam”. Kim Hyung Joong sangat meyakini bahwa semua hal di dunia ini terhubung melalui data untuk menciptakan suatu bentuk kehidupan yang kita tempati sekarang. Melalui Jangdna, ia ingin menghubungkan ritme musikal dan suara manusia dengan konsep DNA. Kata ‘Jangdna’ sendiri merupakan kombinasi antara kata ‘Jangdan’ yang berarti ritme tradisional Korea, dan ‘DNA’, dengan menggunakan suara manusia. Ketika pengunjung mengatakan sesuatu pada mikrofon, piranti lunak menciptakan sel visual berdasarkan analisa data frekuensi suara tersebut, yang disebut DNA dari ritme. Setelah sel terbentuk, ia akan mulai terhubung dengan sel lain hingga berkembang menjadi ritme baru.

Park Seung Hoon yang memiliki latar belakang seorang komposer musik elektronik (alias Radiophonics) membuat karya bertema "Aquaphonics V2" (2015) “3.0 Generation of Music” (Musik Generasi ke-3), yang didefinisikannya sebagai “sebuah generasi dimana musik tidak hanya didengarkan oleh publik tetapi juga diciptakan oleh publik”. Ia menciptakan sejumlah musik berdasarkan konsep fisika alam semesta, fenomena alam dan filosofi kontemporer. Sebagai seniman media baru, ia mengembangkan beberapa antarmuka dan instalasi menggunakan air, cahaya dan bunyi untuk menciptakan musik –tidak hanya bagi musisi namun juga bagi para pengunjung. Karya ini merupakan antarmuka baru dalam pertunjukan musik, yang dimainkan dengan cara mengendalikan kecepatan laju cairan dalam beberapa pipa. Pada pameran ini, ia menghadirkan karya seni media baru ‘SYMPHONIE AQUATIQUE’, yang terdiri dari sejumlah mangkuk kaca berisi air dan tiap mangkuk air tersebut memiliki sensor yang terhubung dengan berbagai bunyi-bunyian instrumen tradisional Indonesia. Pengunjung dapat bermain dengan menyentuh air dan melihat pantulan riak air pada dinding selagi mendengarkan irama musik. Karya ini akan memberikan pengalaman layaknya sebuah simfoni dalam akuatik.


Karya Choi Suk Young bertema "Interactive SeeSea Drawing" (2016) yang dirancang untuk merangsang anak-anak menjelajahi lautan dengan impian tak berbatas. Mereka ditemani oleh kawanan bawah laut yang terancam punah, yang hidup kembali melalui goresan tangan mereka. Sebagai bentuk permainan baru, pengunjung menyaksikan gambar mereka menjadi hidup dan berenang di lautan melalui bentuk seni media ini.


Karya Lee Hye Rim bertema "Obsession/Love Forever" (Obsesi/Selamanya Cinta) (2007) memberikan dorongan untuk memahami visi kontemporer akan kecantikan dengan menelaah saling silang antara kontruksi industri mode terhadap norma dan mitos kontemporer yang diciptakan oleh budaya maya dan permainan komputer. Proyek ini merupakan lanjutan dari karya TOKI/Cyborg Project (2003-), yang masih berlangsung, yang mempertanyakan peran teknologi baru dalam pembuatan dan representasi citra. Tubuh karakter digital bernama TOKI yang dipotong menjadi beberapa bagian, dan berpose malu-malu dalam botol parfum, merupakan produk kecantikan dan komoditas yang menggabungkan kekuasaan dan rayuan. Animasi bagian tubuh tersebut mengolok obsesi atas keindahan tubuh wanita yang diciptakan oleh motivasi ereksi penis dalam budaya dan permainan maya, dengan mereferensi kontribusi penting dari mitologi kontemporer, psikoanalisis, teknologi, sibernetika, estetika, operasi plastik, fenimisme, konsumerisme dan erotisisme. Tiap animasi tidak hanya menanggapi hasrat dan fantasi seksual lelaki, namun juga fantasi wanita untuk menyajikan tubuhnya sebagai komoditas. Tiap kanal bermain dengan dan menekankan batas tipis antara dominasi dan nafsu, khayalan dan rasa takut, kelahiran dan kematian.

Karya Anang Saptoto bertema "Keren dan Beken" (2016) yang selama periode 2013 - 2016, ia sering bereksperimen dengan pendekatan anamorphic atau biasa disebut proyeksi perspektif. Pendekatan ini memainkan jarak pandang dan perspektif, sekaligus menyajikan ilusi optik sebagai efek yang dapat dinikmati pada bentuk karya manapun. Media yang sering saya pakai di antaranya adalah mural di dinding, lantai hingga di atas atap. Selain itu ia juga mengaplikasikan anamorphic dalam bentuk karya-karya drawing di atas kertas, fotografi, cetak digital dan kolase karpet.

Karya Elia Nurvista "Rerasan Jaman" (2015) merupakan praktik arstistik yang beririsan antara seni dan eksplorasi sosial, dimana akan terus dikembangkan dan eksperimentasikan untuk terus didorong dan diuji coba batas-batasnya. Ia tertarik pada bentuk-bentuk kerja yang memiliki sikap kritis dan dapat memancing imajinasi kita akan dunia yang lebih baik. Ia memiliki beberapa karya yang fokus pada makanan dan pangan. Dalam pameran ini, Ia tertarik untuk membahas tentang gula, dan melihat lagi di balik komoditas yang manis ini perihal sejarah kolonialisasi hingga tenaga kerja dan ekstraksi material dalam konteks kehidupan saat ini.

Karya Heri Dono "The Trio Angels" (Tiga Bidadari) (2014). Bidadari dalam karyanya tidak berhubungan dengan isu agama tertentu, tetapi merupakan simbol inspirasi. Inspirasi selalu menuju ke masa depan, seperti halnya dengan perjalanan imajinasi, fantasi, intuisi, dan persepsi manusia. Karya ini terinspirasi oleh film Charlie Angels, dimana 3 perempuan superhero sanggup melawan musuhnya dengan gagah berani dan kelihaian/ketrampilan yang luar biasa. 'Bidadari' adalah 'inspirasi' itu sendiri. Dalam agama Hindu terdapat 3 dewa yang berperan penting di dalam kehidupan. Dewa Brahma (dewa pencipta), Dewa Wisnu (dewa pemelihara) dan Dewa Syiwa (dewa pemusnah/pelebur). Seperti halnya di dalam 'dialektika' Hegel tentang Tesis, Antitesis dan Sintesis merupakan pernyataan apakah kehidupan tersebut merupakan suatu sistem yang selalu abadi ataukah perubahan yang terus menerus di dalam perubahan kehidupan di muka bumi ini.

Kemudian Karya Ricky “Babay” Janitra "Illogical Room" (2016) yang mengusung kehidupan di antara perubahan budaya digital. Manipulasi, surealis, abstrak bahkan sekarang kehidupan nyata dan kehidupan virtual menjadi kabur. Perubahan sosial, gestur baru dan banyak lagi kejadian menarik yang dihasilkan oleh dunia digital. Karya ini membicarakan apa yang telah dilakukan oleh budaya digital di dunia ini. Memberi batas dunia nyata dan dunia virtual. Baginya seni itu adalah gagasan, masalah medium dan bagaimana sebuah karya mendistribusikan sesuatu. Bagaimana karya itu menyentuh seseorang, membuat bahagia atau masuk dalam kesadaran. Buatnya, seni adalah pilihan hidup, untuk melihat dan menggambarkan kehidupan. Gagasan-gagasan karyanya dipengaruhi kehidupan di tengah-tengah kemajuan teknologi yang masif. Teknologi yang dimaksud adalah internet dimana kini semua orang terkoneksi: memudahkan komunikasi dan cepat. Bereksperimen pada medium bentuk dan bunyi dalam mentransformasikan gagasan dalam berkarya memberi spontanitas estetika dalam karyanya.


Masih banyak lagi karya - karya yang ditampilkan dalam pameran ini. Pameran ini diadakan di Galeria Fatahillah, Kota Tua, Jakarta hingga 3 November.

Untuk jadwal dan informasi lebih lanjut, silakan cek www.arcolabs.org

Jam operasional pameran : 09.00 - 19.00 WIB
* Pameran ini tidak memungut biaya dan terbuka untuk umum setiap hari
Tur Pameran
29 Oktober 2016 / 11.00 - 12.00 WIB
30 Oktober 2016 / 11.00 - 12.00 WIB
(minam)
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar